Kelakuan yang Berlebihan di Internet

Jadi gini…

Konfilk atau Masalah itu terjadi ketika ada jarak / perbedaan antara yang diharapkan dengan realita.  Karena, bahkan pada saat kita bilang kita ga mau punya ekspektasi apa-apa, otak kita pasti diam-diam curi start untuk memprediksi apa yang akan terjadi.

Di era digital ini, hal itu makin diperparah. Banyak sekali internal konflik yang terjadi. Karena dalam dunia digital ini, orang-orang diberikan keleluasaan lebih untuk  “stretching the truth” alias “framing”, kalo istilah dalam dunia media dan pencitraan.

Kalo “framing” atau “stretching the truth” ini biasanya dilakukan dalam skala nasional atau bahkan internasional untuk memoles berita yang ada. Sekarang levelnya bisa individual. Mulai dari foto yang difilter atau diambil dengan angle tertentu sampai dengan pilih-pilih fakta. Misalnya posting foto makanan mewah, tanpa tahu di belakang sebenernya dia pinjem duit buat makan atau dia harus naik angkot untuk menghemat atau sebenernya saat makan dia berantem sama pasangannya dll. Yang orang lain tau cuma si A lagi makan-makanan mewah, enak banget keliatannya. en de bla en de bla endeswey.

Hyperpersonality Effect

Gw kayanya sering banget nulis tentang Hyperpersonality Effect ini di tulisan gw yang berbau cyberpsychology. Abisnya emang itu sih yang sepertinya mendasari pemahaman gw tentang Psikologi dunia maya.

Hyperpersonality Effect ini gw pelajari dalam konteks online relationship. Lebih ke relasi romantis. Ilustrasinya adalah efek ini menjelaskan kenapa kita sering sekali menemukan orang-orang yang sempurna dan cepat sekali akrab sehingga langsung merasa cocok dengan orang yang sama sekali belum pernah ditemui (secara fisik). Karena kekurangan tanda-tanda fisik (intonasi suara, suasana yang berbeda dan tanda non-verbal lainnya) dilengkapi dengan ekspektasi dari otak kita. Makanya kekurangan dari lawan bicara tersebut seolah bisa dimaklumi oleh citra-citra yang kita pikirkan sendiri.

Nah, buat gw, sekarang hyperpersonality bukan cuma terjadi dalam konteks “Romantic Online Relationship”. Tapi terjadi di semua relasi online yang ga cuma romantis. Tanpa sadar semua pengguna alat komunikasi yang dimediasi oleh komputer ini menjadi “pelaku” sekaligus “korban”

Gimana coba maksudnya?

Gini. Kalo kita posting sesuati di Medsos, kita pengen keliatan oke dong? Kaya tadi, foto 500x dipilih duluuu, diedit duluuu terus baru deh diposting, atau foto-foto liburan yang bahagia-bahagia gitu. Apalagi kalo yang ngambil foto bagus kaya gue (lah, kok sombong) pasti yang keliatan ya yang seneng-seneng aja. Padahal, nyari duit liburannya susah, selama perjalanan ada berantem-berantemnya sama supir angkot, drama hampir telat ditinggal pesawat, dll.  Dari sisi dokumentasi yang keliatan cuma yang hepi-hepi aja, dan untuk beberapa pengamat, hal tersebut bisa jadi memperbesar jarak antara harapan dia dan realita yang dialami. Bisa jadi kalimat-kalimat seperti ini familiar “ya ampuun enak banget liburan, sementara gw di sini kerjaan numpuk” atau “gile dia sih beda ya maenannya.. duitnya ga berseri!”. Kalo sampe di situ aja sih mungkin gapapa. Tapi ada juga yang dari beberapa itu menganggap serius dan justru jadi bikin tanpa sadar membandingkan keadaan dirinya dengan keadaan orang lain. Bahayanya, postingan orang lain itu yang dijadikan referensi bahwa bahagia itu seperti itu. Lalu seolah-olah ngerasa diri sendiri ga bahagia.

Pada titik ekstrim yang berbeda, orang-orang yang memposting di kutub yang berbeda (posting galau, sedih-sedih, drama) juga sama aja berlebihannya. Bedanya cuma: satunya menaruh dunia di bawah telapak kakinya, satunya menaruh dunia di atas kepalanya.

Yang mana yang lebih baik?

Ga ada. Semuanya sama berlebihannya. Gw juga pelaku sih dan gw ga mau disalahin (wahahah!). Semuanya ujung-ujungnya akan tergantung pada individu masing-masing. Bagaimana kita bertanggung jawab untuk merespon arus informasi yang cukup deras ini.

Sulit memang, apalagi kita berada di zaman di mana penghargaan disimplifikasi, kualitas seseorang di-angka-kan alam jumlah like dan komen.

Di satu sisi, internet tuh alat yang powerful untuk berkomunikasi, mengemukakan pendapat, dan masih banyak lagi. Tapi di sisi lain, usernya juga jangan lupa dengan efek yang diakibatkan oleh internet terhadap dirinya sendiri.

Gw akan menutup dengan quote yang gw suka:

The problem nowadays is instead of loving people and using things, they use people and love things.

Jadi hati-hati siapa yang diperalat dan siapa yang dijadikan manusia. Jangan sampai kebalik-balik. Internet itu cuma alat kok. Yang paling penting adalah orang di belakangnya. Bagaimana dia bertanggungjawab terhadap dirinya sendiri.

4 thoughts on “Kelakuan yang Berlebihan di Internet

  1. Hi.. lagi ngubek2 twitter dan nyasar k blog kamu. I love this post so much. Dan saya pun mengakui sangat menjaga feeds instagram & path sayah. Huwahaha.. tapi klo di fesbuk lebih bodo amat sih.. 😂😂😂 apa aja yg saya suka saya share. Sampe pernah ada temen2 yg ribut di kolom komen dan saya harus japri satu per satu orang2nya biar ngga komen lagi. 🙈

    Like

    1. Sama aja, kak! Internet memungkinkan orang untuk menunjukkan pengetahuan agamanya yang cuma setengah-setengah dan juga membaca setengah-setengah. Terus karena beberapa orang merasa harus menunjukkan “kehebatannya” yang hanya didasari setengah-setengah ilmu itu kak jadi semua orang berlebihan menanggapinya karena yang setengah dibalas setengah juga. Terus berlebihan deh. Kira-kira paham ga kak? wakakakakkaka #njelimet

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s