Alone Vs Lonely

Gw udah pernah nulis tentang ini di salah satu postingan gw. Mungkin di salah satu postingan 365-Gratitude, tentang bagaimana gw menikmati kesendirian gw pada suatu hari.

Ada seorang teman yang pernah nanya, emang apa sih beda antara “alone” dan “lonely”?

Secara literal, kalo diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia “Alone” itu “Sendirian” kalo “Lonely” itu “Kesepian”.

Gampangnya, kalo contoh kasusnya diri gw sendiri: gw yang berstatus single ini seringkali mendapati diri gw dalam keadaan sendirian. Seperti hari Sabtu ini, gw leyeh-leyeh ga ketemu siapa-siapa, ga ngobrol siapa-siapa dan ended-up nulis blog ini di sore hari setelah nonton serial “The Good Wife” satu season. Apa gw kesepian? Nggak sih. Belom. Jadi gw sendiri tapi ga kesepian.

Menurut gw “Sendiri” itu lebih ke ‘material’. Sendiri, satu, elo sendiri aja udah, ga ada siapa-siapa. Tapi kalo “Kesepian” ga harus saat sendirian. Waktu itu gw pernah hadir pada suatu acara, di mana orang-orangnya ga gw kenal dengan baik. Ya Tuhan, itu kayanya mau nangis. Karena di tempat yang rame gw ngerasa sendiran/kesepian. Gw pernah baca sih, “lonely” itu “a feeling of disconnection.” Di acara itu gw ga bisa dengan nyaman berkomunikasi dengan orang-orang yang hadir. Jadi, gw ga sendirian tapi gw kesepian.

So, dua hal tersebut “Alone” dan “Lonely” itu dua hal yang berbeda. Mereka sering berbarengan, namun tidak selalu berdua. Seperti biji pada tanaman dikotil. Mereka dua tanaman yang berbeda. Ngaahahah! #Abaikanduakalimatterakhir

Alone ga masalah, Lonely yang biasanya agak bahaya dan menuju bau-bau depresi kalo berkelanjutan. Kadang-kadang gw juga ngerasa lonely, tapi gw inget gw adalah teman yang paling baik untuk diri gw sendiri. As weird as it sounds, tanpa berusaha terdengar seperti berkepribadian ganda. Gw selalu punya perdebatan dalam diri gw. Seperti ada dua orang berbicara. Mereka sering berargumen, tapi ga jarang melengkapi satu sama lain :).

Selain itu, kadang-kadang kita terlalu fokus sama perasaan. Walaupun perasaan ga pernah bohong, tapi perasaan sebenernya cuma “tanda dari tubuh” untuk melakukan sesuatu.  Maksudnya gini: Kalo kita ngerasa sedih karena kehilangan roti, lalu kemudian marah karena ternyata roti itu hilang karena diambil oleh seseorang. Kadang-kadang kita terlalu fokus dengan perasaan sedih dan marahnya. Tanpa tau kalo masalah sebenarnya: “KELAPARAN” ga diliat lagi. Lupa goal awal, fokus sama riak-riak yang sama sekali ga penting.

Lonely juga gitu, kadang-kadang kita fokus sama perasaan sedih karena merasa kesepian. Padahal harus dilihat lagi. Masalah utamanya apa? Tanda dari tubuh-nya adalah sedih, berarti kita harus melakukan apa supaya masalah itu selesai? Menghubungi teman lama mungkin? Atau even mencoba terbuka sama diri sendiri. Supaya ga kesepian lagi. Karena gimana orang mo ngerti dan mengharapkan orang menerima dengan tangan terbuka kalo kita ga menghormati dan jujur sama diri sendiri.

Well, selalu ada pembelajaran di balik semua cerita ya kan?  Ini cerita hari Sabtu di mana gw memutuskan untuk tidak melakukan apa-apa di hari libur tapi pikiran gw masih rame. Semoga perasaan gw di sebuah acara itu ga muncul di dalam pesta neuron dalam otak gw ini. Semoga kita semua bisa menerima diri kita sendiri.

Aamiin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s