[Buku] – The Subtle Art of Not Giving a F*ck

FullSizeRender 4.jpgGw tau Mark Manson ini sejak dua tahun yang lalu. Menurut gw gaya tulisan dia agak beda sama orang-orang kebanyakan. Mungkin karena dia nulis blog kali ya. Jadi ga ada pakem-pakem tertentu. Tapi justru itu yang bikin tulisannya enak dibaca menurut gw. Lebih mengalir.

Sebenernya yang dia katakan udah gw tau sih. Karena kebanyakan gw pernah denger yang serupa di kuliah gw, maupun di motivational speech lain. Tapi ya itu, kemasannya beda. Jadi walaupun kontennya sebenernya sama, tapi ada beberapa opini-opini dia yang bikin gw pas bacanya “oiya ya. bener nih. kenapa ga ngeliat suatu hal (yang udah gw tau itu) dari sisi yang ini ya.” Gitu deh.

Nah, bukunya ini baru gw beli pas gw pulang ke Palembang kemarin. Karena challenge baca buku gw stuck di cerita fiksi yang gw ga suka. Gw udah lama pengen beli bukunya, tapi takut ga worth-it. Soalnya harga bukunya tuh agak lebih mahal daripada buku-buku self-help yang lain. Cuma karena ada rekomendasi juga dari Pakdhe yang kemaren baru baca bukunya. Jadi, mengacu pada alasan-alasan di atas, gw memutuskan untuk membelinya.

Kesannya?

Seperti buku yang gw enjoy bacanya, gw menghabiskan buku ini hanya kurang dalam seminggu. Gaya bahasa masih seperti yang sudah-sudah. Banyak kata-kata “f*ck” dan “sh*t” bertebaran.  Gw bacanya sambil ketawa-ketawa. Ada sedihnya juga. Tapi somehow gw juga ngerasa: liberating.

Banyak quote-quote yang gw catat. Misalnya ketika dia sedikit mengkritik orang-orang yang selalu berusaha untuk positif dan mengindahkan “pain”/rasa sakit. Dia bilang:

The right question is not “What do you want out of life”. The right question is “What pain do you want in your life? What are you willing to struggle for?”.

Karena menurut dia, “penderitaan” itu penting buat perkembangan diri.

Terus dia juga bilang kalo kita tuh terlalu invest dengan emosi. Padahal, emosi / perasaan itu cuma tools dalam kehidupan ini. Kita kadang-kadang terlalu fokus sama emosi, padahal emosi itu bukan masalah sesungguhnya. Emosi itu sebagai sistem neurobiologis supaya kita melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah.

Ya pokoknya gitu deh. Menarik banget kok buat dibaca. Sejujurnya bikin gw yang drama queen ini agak less-drama gitu deh (hahaha) (tapi queennya tetep ateuh).

Sekarang gw masih dalam buku ke-10 gw. Ada rekomendasi buku lain yang menarik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s