Jangan mau dikuasai internet!

Biasa, pada awalnya tulisan saya akan dibuka dengan disclaimer: Ini adalah semata-mata suara seorang pengamat abal-abal yang dari kemarin sudah tidak tahan mencurahkan apa yang dipikirannya. Mohon maaf jika ada kesalahan. Pendapat saya ini sangat terbuka untuk dikritik, ditambahkan, dan menjadi bahan diskusi.

Sebelumnya, silahkan pandang-pandangi gambar di bawah ini.

Sumber: http://www.baekdal.com/analysis/market-of-information

Silahkan dibaca untuk detil lebih lanjut. Namun intinya, artikel tersebut bercerita tentang sejarah arus informasi yang terjadi dari lokal market hingga jaman internet. Artikel ini dibuat tahun 2009, tapi saya fikir masih relevan sampai sekarang.

Internet baru marak di Indonesia sekitar tahun 1990-an *mohon maaf pakai ilmu nujum, ga pake referensi*. Tapi berbeda sekali gaya penggunaannya dua dekade lebih, yaitu sekarang.. 2010-an. Sebaran informasi seperti yang di atas sudah dijabarkan oleh artikel Bapak Thomas Baekdal memang mengubah tingkah laku orang termasuk orang Indonesia.

Secara umum terjadi perubahan tingkah laku yang signifikan pada manusia, simpelnya, yang dulunya informasinya ‘dicari’ sekarang ‘disaring’. Dua-duanya ada usaha alias membutuhkan manusia-manusia yang aktif. Dulu tingkah laku yang berkenaan dengan informasi lebih ditekankan pada kata “mencari”, sedangkan sekarang yang sebenarnya tak kalah penting adalan “menyaring”.

Bukan artinya lebih mudah hidup manusia sekarang yang tinggal duduk pasif dan mendapatkan informasi. Justru kegiatan ‘menyaring’ ini lebih merepotkan, karena kita harus lebih aktif mencari, menganalisis, menimbang, mana informasi yang benar dan apa pengaruhnya ketika si informasi itu disebar kembali.

Sayang seribu sayang, kita (saya terutama) sudah terbiasa hidup di dunia yang serba instan: “kalo bisa gampang, kenapa dipersulit”. Makanya banyak sekarang informasi yang simpang siur. Informasi yang didapat terkadang ga diolah lagi. Ibarat kata, makan mie-instan kering. Udahnya diinstanin tinggal dimasak, ini masak aja males jadi makannya mi kering. Yang ga sehat, makin ga sehat lagi =))))

Sebenarnya ini salah satu gambaran film-film Artificial Intelligence yang ada adegan di suatu masa di mana kita dikuasai oleh mesin. Ya ini bau-baunya. Kita jadi mesin-mesin yang ga memproses lagi informasi dengan baik dan benar. Satu-satunya yang membedakan manusia adalah manusia masih punya rasa… *kaaaataaaanyaaaa*. Tapi karena fungsi otaknya juga ga diolah dengan baik, si ‘rasa’ yang kita bangga-banggakan itu juga ga terolah dengan baik. Jadi gampang kepancing, gampang terprovokasi, gampang ribut, dll.

Oke, akan panjang kalo kita masuk ke perdebatan antara otak kiri dan kanan. Yang jelas, kita butuh dua-duanya. Ibarat gambar, rasio itu bentuk (kotak, segitiga), emosi itu warna. Bentuk aja ga pake warna jadi kaku. Warna aja ga pake bentuk, abstrak. Makanya untuk jadi manusia sih kita harusnya bisa dua-duanya, memberi bentuk pada warna dan memberi warna pada bentuk.

Nah pengguna internet di Indonesia khususnya juga mengalami culture shock dengan ilusi “Freedom of Speech” di internet. Sementara pemerintah yang bikin regulasi tentang cyber-ethics di sini juga sama kagetnya. HAH?! JADI KITA SAMA-SAMA KAGET?! *kaget juga*

Saya inget dulu temen kuliah saya bilang (dia orang Amerika), “Di Amerika memang ada jaminan kebebasan berbicara. Tapi sebebas-bebasnya mereka bicara, mereka ga mungkin lepas dari konsekuensi kata-kata yang sudah mereka lontarkan.”

Bro.. orang Amerika sudah melakukan praktek ilusi “Freedom of Speech” ini lama sekali. Sebagian besar dari mereka sudah tau apa sebabnya kalo ngomong ga pake saringan. Sementara kita? ya baru dari tahun 90-an akhir banget. Mulai ada kaya bisa ngomong sembarangan, menghina-hina orang yang seolah-olah orangnya yang dihina ga akan denger itu baru-baru dari awal tahun 2000-an kayanya.

Kadang saya mikir, kenapa segitunya kita culture shock?. Apa dulu sejarah bercerita kalo kita tuh ditekan dengan sangat dahsyat gitu ya. Jadi kita sekarang yang katanya sudah merdeka harusnya bisa lebih mengutarakan apa yang dipikiran. Ga jelek sih, bagus malah. Cuma ya karena si culture shock itu tadi bikin kita terlalu euforia dengan kesempatan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikiran… sampe lupa sama: Etika.

Padahal katanya Pak Paolo Coelho. Kalo mau maju harusnya kita bisa menggabungkan antara kemajuan teknologi dan kebijaksanaan kuno. Ke mana tuh katanya orang Indonesia ramah-ramah. Halus budi pekertinya, etikanya luhur. Bubar semuanya pas tau bisa ngomong apa aja. Semua ngerasa punya panggung untuk bicara. Terutama  saya nih.. yang lagi ngomong ini saya pikir saya punya panggung untuk mengutarakan apa yang saya pikirin ini. Cuma ya jangan lupa orang Indonesia itu rata-rata sensitif orangnya *generalisasi sih ini*. Jadi pada dasarnya memang butuh asertifitas khas Indonesia untuk mengcounter dan mengemukakan pendapat.

Aduh, terus sekarang saya mau ngomongin tentang betapa hebatnya otak kita melengkapi isyarat-isyarat yang kurang di dunia maya ini, seperti: tone suara, pandangan mata, gerakan tubuh, bahkan konteks/suasana di mana orang tersebut berbicara (suhu ruangan, kejadian apa yang ada di sekitarnya, dan lain sebagainya). Tapi itu nanti panjang banget. Cuma merujuk pada hal ini, ada satu hal krusial yang dilupakan. Bahwa internet ini cuma alat. Sebagimana layaknya pisau, kamera, kuas, dan lain sebagainya. Dimana si alat ini adalah extensi dari tubuh si pengguna. Makanya agak konyol sebenernya kalo kemudian pembatasan-pembatasan itu dalam tataran alat, misalnya: blok situs-situs yang dianggap mengancam. Seharusnya yang dilakukan adalah mengedukasi si pengguna alat supaya lebih cerdas.

tapi.. INGAT!! KECERDASAN TANPA ETIKA TIDAKLAH ELOK.

Makanya sebenernya saya dulu (eh sampe sekarang sih), seneng banget sama internet sehat yang sepertinya salah satu misi-nya adalah mengedukasi orang-orang pengguna internet *eh bener ga sih mas @donny itu misinya? aku sotoy nih* bahahahah

Cuma let us meet them halfway, guys. Yang punya anak, punya orang-orang muda di sekitarnya.. coba diingetin anak dan orang sekitarnya.. juga yang ga punya siapa-siapa (maksudnya buat dirinya sendiri -> ini juga #selfnote kok) boleh coba think and re-think ketika baca sesuatu yang menggugah (apalagi secara negatif) “apa berita ini benar”, “sumbernya dari mana”, dll. Kalo kata pak Chomsky salah satu sikap yang menyelamatkan kita dari pengaruh teori konspirasi dunia *googlng sendiri ya maksudnya apa* adalah berpikir kritis.

‘Di dalam’ alat yang menghubungkan individu secara pemikiran dan bukan secara fisik ini, kita diwajibkan untuk menyaring arus informasi yang datang… Di sini juga kita cenderung mempercayai apa yang mau kita percaya *lihat keterangan bahwa otak melengkapi isyarat-isyarat yang hilang di dunia maya*. Karena itu, individu-individu yang menggunakan alat internet ini bertindak sebagai individu yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Jangan mau dikuasain alat, gengs!!

Seharusnya fenomena pilpres kemaren sedikit banyak udah mengajarkan konsekuensi arus informasi yang deras juga ya. Bahwa ga semua berita itu bener, dan sebisa mungkin kita harus punya pandangan netral terhadap satu issue. Yaaa belajar sih, kemaren sih sebenernya masih banyak yang lebih mengandalkan afeksi/emosi daripada logika/rasio dalam melihat satu issue :))) Yatapikan semuanya proses kan. Harus dinikmati.

Ya kira-kira gitu deh. Juga harus diinget-inget terus, kalo di seberang sana yang kita pada ajak ngobrol itu.. manusia juga, punya otak juga, punya indera juga, punya hati juga. Jadi kalo kata orang tua “kalo ga mau dicubit, jangan cubit orang”. Coba ditimbang-timbang lah itu kalo ngomong. *ini juga #selfnote BANGET! hahahaha*

So, inti tulisan saya yang panjang-panjang ini adalah:

– Internet itu cuma alat. Yang bertanggung jawab terhadap diri ya kita sendiri. Jangan salahin internet. Kalo nyalahin internet, sama aja pas luka nyalahin piso karena terlalu tajem *yea elu yang bego… udah tau tajem kenapa dimaen-maenin ye kan*

– Saringan! Saringan ke dalam dan ke luar. Jangan sekali-kali lupa dengan nilai luhur bangsa Indonesia!! MERDEKA!!!!

Sekian saya akhiri saja tulisan saya yang aneh ini. Karena komennya ga bisa dilock, jadi ya sok aja kalo mo komen sih. Paling kalo gw ga suka gw apus *lho?* hahahahah

Repost tulisan gw di facebook: https://www.facebook.com/notes/10152616802596457/ | 13 Juli 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s